Laman

Jumat, 03 Desember 2021

Bab Doa Yang Berkaitan Dengan Ilmu dan Menuntuk Ilmu


  1. Hadits 04702 [ Doa minta ilmu yang bermanfaat dan dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat ] SHAHIH
  2. Hadits 01506 [ Doa minta ilmu yang bermanfaat ] HASAN
  3. Hadits 01532 [ Doa minta kaya ilmu ] HASAN
  4. Hadits 01453 [ Doa minta dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat, amal yang tidak diangkat, doa yang tidak didengar ] SHAHIH
  5. Hadits 01468 [ Doa minta dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu, nafsu yang tidak pernah puas, doa yang tidak didengar ]HASAN
  6. Hadits 01559 [ Doa minta ampunan sebab kebodohan, kesalahan, dln] SHAHIH
  7. Hadits 01490 [ Doa minta dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu ] DHAIF
=

1.      

٤٧٠٢ــ سَلُوْا اللهَ عِلْمًا نَافِعًا وَتَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعْ (ه هب) عن جابر (صح)ـ

          4702- Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan mintalah perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dari Jabir. SHAHIH)

          Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu syariat yang diamalkan dan ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu – ilmu yang membahayakan perkara agama dan dunia seperti ilmu sihir.[1]

          Ibnu Majah Hadits Nomor 925

كانَ يقولُ إذا صلَّى الصُّبحَ حينَ يسلِّمُ اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا طيِّبًا وعملًا متقبَّلًا

          Artinya: Beliau apabila selesai shalat shubuh setelah salam membaca (اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا طيِّبًا وعملًا متقبَّلًا)“Ya Allah … aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah (925). SHAHIH).

١٥٠٦ــ اللّٰهُمَّ انْفَعْنِى بِمَاعَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَايَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ (ت ه) عن أبي هريرة (ح)ـ

1506- Ya Allah berilah aku manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah kepadaku apa – apa yang memberikan mafaat kepadaku dan tambahilah aku ilmu. Segala puji bagi Allah atas segala keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan ahli neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, HASAN)[2]

١٥٣٢ــ اللّٰهُمَّ أَغْنِنِى بِالْعِلْمِ وَزَيِّنِى بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنِى بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْنِى بِالْعَافِيَةِ (ابن النجار) عن إبن عمر (ح)ـ

1532- Ya Allah perkayalah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan kesantunan, dan muliakanlah aku dengan takwa, dan percantiklah aku dengan keselamatan. (HR. Ibnu Najar dari Ibnu Umar. HASAN)

Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu akhrat, karena kekayaan sejati adalah ilmu akherat. Ilmu dan amal merupakan dua hal yang karena keduanya kita bisa melihat dan mendengar setiap kitab para mushannif, pengajaran para guru, nasehat para pemberi nasehat, buah pikiran para pemikir, dan bahkan karena keduanyalah diturunkan kitab – kitab, diutus para Rasul, dan bahkan karena keduanya pula diciptakan langit dan bumi seisinya.

Al-Qur`an Surat Ath-Thalaq ayat 12

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا

Artinya: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS Ath-Thalaq ayat 12)

Cukuplah ayat dan hadits diatas menjadi dalil kemuliaan ilmu, apalagi ilmu ma`rifatullah.

Barangsiapa yang diberi ilmu maka dia benar – benar orang kaya sejati walaupun dia fakir harta dan barangsiapa tidak diberi ilmu, apalagi ilmu ma`riatullah dan ilmu tauhid, maka dia benar – benar orang fakir walaupun dia banyak harta.[3]

١٤٥٣ــ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَعَمَلٍ لاَ يُرفَعُ وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ  (حم حب ك) عن أنس (صح)ـ

1453- “Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari amal yang tidak diangkat, dan dari doa yang tidak di dengar. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim dari Anas. SHAHIH)

Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diizinkan untuk dipelajari oleh syariat, ilmu yang tidak disertai amal atau ilmu yang tidak menimbulkan akhlak batinah yang terpuji.

Ilmu didahulukan karena amal yang tanpa ilmu akan sesat.

Amal tidak diangkat dan diterima oleh Allah swt misalnya karena tidak ikhlash atau karena bercampur dengan riya.

Kita perlu mohon perlindungan kepada Allah swt dari ilmu yang tidak bermanfaat karena ilmu apabila tidak bermanfaat akan menyebabkan kerugian bagi pemiliknya. Amal apabila tidak diterima maka akan ditolak dan menyebabkan pelakunya dimurkai. Doa apabila tidak diterima maka menunjukan ada Sesuatu yang tidak beres dalam hati orang yang berdoa.[4]

١٤٦٨ــ اَللّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَايَخْشَعْ وَمِنْ دُعَاءٍ لَايُسْمَعْ وَمِنْ نَفْسٍ لَاتَشْبَعْ  وَمِنْ عِلْمٍ لَايَنْفَعْ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ هٰؤُلَاءِ الْأَرْبَعْ (ت ن) عن إبن عمر (د ن ه ك) عن أبى هريرة (ن) عن أنس (ح)ـ

1468- Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dan dari doa yang tidak didengar, dan dari nafsu yang tiada puas – puasnya, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari empat (perkara) itu. (HR. Tirmidzi dan Nasaai dari Ibnu Umar. Riwayat Abu Dawud, Nasaai, Ibnu Majah, dan Haakim dari Abi Hurairah. Riwayat Nasaai dari Anas. HASAN)

Hati yang tidak khusu adalah hati yang tidak tunduk untuk mengingat Allah swt atau mendengarkan kalamullah. Yaitu hati yang keras.

Jiwa yang tidak puas mengumpulkan harta benda atau banyak makan yang menyebabkan ngantuk dan banyak tidur, banyak was-was, dan keinginan – keinginan jiwa yang menyebabkan bahaya di dunia dan akherat.[5]

١٥٥٩ــ للّهُمَّ آغْفِرْ لِى خَطِيْئَتِى وَ جَهْلِى وَ إِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَ مَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. آللّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطئِى وَ عَمْدِى وَ هَزْلِى وَ جِدِّى وَ كُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى. اللّهُمَّ آغْفِرْلِى مَا قَدَّمْتُ وَ مَا أَخَّرْتُ وَ مَا أَسْرَرْتُ وَ مَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَ أَنْتَ الْمُأَخِّرُ وَ أَنْتَ عَلَى كُلِ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (ق) عن أبي موسى (صح)ـ

Ya Allah ampunilah kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, keterlaluanku dalam perkaraku dan perkara-perkara yang Engkau lebih tahu daripada aku. Ya Allah ampunilah kesalahanku, kesengajaanku, olok-olokku dan semangatku dan semua itu ada padaku. Ya Allah ampunilah dosa-dasku yang telah lalu, yang akan datang, yang aku rahasiakan, yang aku tampakkan. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan dan Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Musa. SHAHIH)[6]



[1] Jaami`ush Shaghiir 4702., Faidhul Qadiir penjelasan hadits 4702. Ibnu Majah hadits 3843.

[2] Jami`us Shaghir: 1506., Faidhul Qadir: 1506. Sunan Tirmidzi 3599.

[3] Jami`us Shaghir: 1532., Faidhul Qadir: 1532.

[4] Jami`us Shaghir: 1453., Faidhul Qadir: 1453.

[5] Jami`us Shaghir: 1468., Faidhul Qadir 1468., Muslim 2722.

[6] Jami`us Shaghir: 1559., Faidhul Qadir 1468., Muslim 1559., Bukhari 6399.

=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar