Laman

Sabtu, 15 Februari 2025

INTISARI SEBAGIAN ILMU ALLAH SWT - AL-JAAMI` (Yang Maha Mengumpulkan) (الجامع)

 

AL-JAAMI` (Yang Maha Mengumpulkan) (الجامع)

Salah satu Asma Allah swt adalah al-Jaami`. Ketika kita berpikir dimanakah Allah swt mengumpulkan sebagian ilmu-ilmunya?  maka kita akan mendapatkan jawaban bahwa sebagian ilmu Allah swt terkumpul di dalam surat Al-Fatihah, pada level berikutnya terkumpul dalam tiga buah hadits yang sangat istimewa, dan pada level berikutnya terkumpul dalam satu kaidah i`ibarul mashalih (demi kebaikan).

A.   YANG MENGUMPULKAN MAKNA AL-QURAN

Salah satu Asma Allah swt adalah al-Jaami`, Allah swt mengumpulkan makna 104 kitab yang pernah diturunkanNya di dalam empat kitab Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Furqan. Kemudian Allah swt mengumpukan makna keempat kitab tersebut di dalam Al-Furqan. Kemudian Allah swt mengumpulkan makna Al-Furqan di dalam Al-Mufashshal (surat pendek). Kemudian Allah swt mengumpulkan makna Al-Mufashshal di dalam Fatihatul Kitab (SuratAl-Fatihah). Oleh karena itu barang siapa yang mengetahui tafsir Al-Fatihah maka ia seperti orang yang mengetahui tafsir semua kitab yang pernah diturunkan. Barang siapa yang membacanya maka seakan-akan ia membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qurqan.

Kenapa demikian? Karena isi semua kitab Ilahiyah adalah tentang ilmu ushul, ilmu furu`, dan ilmu mukasyafah, sedangkan surat Al-Fatihah mengandung semua itu, oleh karenanya seakan-akan semua makna kitab yang pernah diturunkan terkandung di dalam surat Al-Fatihah.

Dihimpun dari kitab Tafsir Al-Kabir karya Imam Fakhrur Razi Juz I halaman 189:

 

وَعَنِ الْحُسَيْنِ قَالَ: أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى مِائَةً وَأَرْبَعَةَ كُتُبٍ مِنَ السَّمَاءِ فَأَوْدَعَ عُلُومَ الْمِائَةِ فِي الْأَرْبَعَةِ، وَهِيَ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْفَرْقَانُ، ثُمَّ أَوْدَعَ عُلُومَ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ فِي الْفُرْقَانِ، ثُمَّ أَوْدَعَ عُلُومَ الْفُرْقَانِ فِي الْمُفَصَّلِ، ثُمَّ أَوْدَعَ عُلُومَ الْمُفَصَّلِ فِي الْفَاتِحَةِ فَمَنْ عَلِمَ تَفْسِيرَ الْفَاتِحَةِ كَانَ كَمَنْ عَلِمَ تَفْسِيرَ جَمِيعِ كُتُبِ اللَّهِ الْمُنَزَّلَةِ، وَمَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ وَالْفُرْقَانَ.(كتاب تفسير الرازي مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير . الباب الثاني في فضائل هذه السورة وفيه مسائل).

قُلْتُ: وَالسَّبَبُ فِيهِ أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ جَمِيعِ الْكُتُبِ الْإِلَهِيَّةِ عِلْمُ الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ وَالْمُكَاشَفَاتِ وَقَدْ بَيَّنَّا أَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى تَمَامِ الْكَلَامِ فِي هَذِهِ الْعُلُومِ الثَّلَاثَةِ، فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ الْمَطَالِبُ الْعَالِيَةُ الشَّرِيفَةُ حَاصِلَةٌ فِيهَا لَا جَرَمَ كَانَتْ كَالْمُشْتَمِلَةِ عَلَى جَمِيعِ الْمَطَالِبِ الْإِلَهِيَّةِ. (كتاب تفسير الرازي مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير . الباب الثاني في فضائل هذه السورة وفيه مسائل).

 

B.   YANG MENGUMPULKAN MAKNA HADITS

 

Hadits Nabi Muhammad saw jumlahnya sangat banyak sampai dengan puluhan ribu. Dari puluhan ribu hadits tersebut ada tiga hadits yang memiliki kedudukan sangat istimewa karena maknanya masing – masing mengumpulkan  sepertiga ilmu agama islam. Hadits tersebut adalah hadits tentang niat (Bukhari no:1 , Muslim no:1907), hadits tentang amal yang tidak memiliki dalil (Bukhari no:2697, Muslim no:1718), dan hadits tentang halal dan haram (Bukhari no:52, Muslim no:1599)

Dikumpulkan dari Kitab Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Jilid II halaman 10.

وَاتَّفَقَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، وَالشَّافِعِيُّ فِيمَا نَقَلَهُ الْبُوَيْطِيُّ عَنْهُ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَالدَّارَقُطْنِيُّ، وَحَمْزَةُ الْكِنَانِيُّ عَلَى أَنَّهُ ثُلُثُ الْإِسْلَامِ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ رُبُعُهُ، وَاخْتَلَفُوا فِي تَعْيِينِ الْبَاقِ. وَوَجَّهَ الْبَيْهَقِيُّ كَوْنَهُ ثُلُثَ الْعِلْمِ بِأَنَّ كَسْبَ الْعَبْدِ يَقَعُ بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ وَجَوَارِحِهِ، فَالنِّيَّةُ أَحَدُ أَقْسَامِهَا الثَّلَاثَةِ وَأَرْجَحُهَا ؛ لِأَنَّهَا قَدْ تَكُونُ عِبَادَةً مُسْتَقِلَّةً وَغَيْرُهَا يَحْتَاجُ إِلَيْهَا، وَمِنْ ثَمَّ وَرَدَ: نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ، فَإِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا كَانَتْ خَيْرَ الْأَمْرَيْنِ. وَكَلَامُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ بِكَوْنِهِ ثُلُثَ الْعِلْمِ أَنَّهُ أَرَادَ أَحَدَ الْقَوَاعِدِ الثَّلَاثَةِ الَّتِي تُرَدُّ إِلَيْهَا جَمِيعُ الْأَحْكَامِ عِنْدَهُ، وَهِيَ هَذَا وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ وَالْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ.

Ketiga hadits tersebut adalah

Hadits Pertama

إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى ـ أخرجه البخارى (1) مسلم (1907) ـ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niatnya masing-masing.(HR. Bukhari:1 ,Muslim:1907)

 

Hadits Kedua

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. أخرجه البخاري (2697)، ومسلم (1718)ـ

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan bagian dari perkara (agama) kami maka amalan itu tertolak. (HR. Bukhari:2697, Muslim :1718)

 

Hadits Ketiga

الحَلَالُ بَيِّنٌ، والحَرَامُ بَيِّنٌ، وبيْنَهُما مُشَبَّهَاتٌ لا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ـ أخرجه البخاري (52) مسلم (1599)ـ

Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya terdapat perkara - perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. (HR. Bukhari:52 , Muslim:1599)

 

C.   YANG MENGUMPULKAN HUKUM FIKIH

 

Syeh Izuddin bin Abdussalam mengembalikan semua persoalaan fikih kepada kaidah i`tibarul mashaalih wa dar`ul mafasid (اعْتِبَار الْمَصَالِح وَدَرْء الْمَفَاسِد) pertimbangan kemaslahatan dan menolak kerusakan. Bahkan terkadang dikembalikan hanya pada satu kaidah (اعْتِبَار الْمَصَالِح) pertimbangan kemaslahatan, karena dar`ul mafaasid bagian dari i`tibaarul mashaalih.

Dikumpulkan dari kitab Al-Asybah wan Nazhair karya Imam Suyuthi, Kitab pertama kaidah pertama.

بَلْ رَجَّعَ الشَّيْخ عِزُّ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الْفِقْه كُلّه إلَى اعْتِبَار الْمَصَالِح وَدَرْء الْمَفَاسِد، بَلْ قَدْ يَرْجِع الْكُلّ إلَى اعْتِبَار الْمَصَالِح، فَإِنَّ دَرْء الْمَفَاسِد مِنْ جُمْلَتهَا

a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar