Laman

Fathul Kabiir 236 Cara menjauhi neraka

  

٢٣٦ــ اِتَّقُوْا النَّار وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ (ق ن) عَن عدي بن حَاتِم (حم) عَن عَائِشَة (طس) والضياءُ عَن أنس (الْبَزَّار) عَن النُّعْمَان بن بشير وَعَن أبي هُرَيْرَة (طب) عَن ابْن عَبَّاس وَعَن أبي أُمَامَة (صح)ـ

236- Takutlah dari neraka walaupun hanya dengan sebelah kurma. (HR. Bukhari, Muslim dan Nasaa-i dari Adi bin Haatim, Ahmad dari Aisyah, Thabraani dalam Al-Auath dan Dlayaa dari Anas, Bazzar dari Nu`man bin Basyir dan dari Abu Hurairah, Thabraani dalam Al-Kabir dari Ibnu Abbas dan dari Abu Umamah, SHAHIH)

Fathul Kabiir 235 Tiga perbuatan yang dilaknati

  

٢٣٥ــ اتَّقوا المَلاعِنَ الثَّلاثَ أنْ يَقْعُدَ أحدُكُمْ فِي ظِلَ يُسْتَظلُّ فِيهِ أوْ فِي طَريقٍ أوْ فِي نَقْعِ مَاء (حم) عَن ابْن عَبَّاس (صح)ـ

235- Jauhilah tiga perbuatan yang dilaknat: Buang air ditempat berteduh, buang air di jalanan, buang air di air tergenang. (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas, SHAHIH)

Fathul Kabiir 234 Jangan buang air di tiga tempat ini

  

٢٣٤ــ اِتَّقُوْا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَ : البَزَارَ فِى الْمَوَارِدِ، وَقَارِعَةَ الطَّرِيْقِ، وَالظِّلِّ (د هـ ك هق) عَن معَاذ (صح)ـ

          234- Jauhilah tiga perbuatan yang dilaknat: Buang air di tempat air mengalir/ pengambilan air, buang air di tengah jalan dan buang air di tempat berteduh. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Haakim dan Baihaqi dari Mu`adz. SHAHIH)

Fathul Kabiir 233 Hati-hatilah dengan orang yang berpenyakit lepra

  

٢٣٣ــ اِتَّقُوْا الْمَجْذُوْمَ، كَمَايُتَّقَى الأَسَدُ (تخ) عَن أبي هُرَيْرَة (صح)ـ

          233- Jauhilah orang - orang yang berpenyakit lepra seperti kalian menjauhi singa. (HR. Bukhari dalam At-Tarikh dari Abu Hurairah. SHAHIH)

Fathul Kabiir 232 Buang air yang di larang

  

٢٣٢ــ اتَّقُوا اللاعِنينِ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَريقِ النَّاسِ أوْ فِي ظِلِّهِمْ (حم م د) عَن أبي هُرَيْرَة (صح)ـ

          232- Takutlah pada perbuatan yang dilaknat, yaitu buang air di jalanan atau di tempat berteduh. (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud dari Abi Hurairah, SHAHIH)

Senin, 09 Mei 2022

Fathul Kabiir 231 Bertakwa, shalat, puasa, zakat, kemudian masuk surga

  

٢٣١ــ اتَّقوا الله وَصَلُّوا خَمْسَكمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وأدُّوا زَكاةَ أمْوَالِكُمْ طَيِّبَةً بِها أنْفُسُكُمْ وأطِيعُوا ذَا أمْركُمْ تَدْخُلوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ (ت حب ك) عَن أبي أُمَامَة (صح)ـ

          231- Bertakwalah kepada Allah, shalatlah lima waktu, berpuasalah di bulan ramadhan, tunaikanlah zakat harta kalian dengan senang hati dan taatlah kepada orang yang mengurusi perkara kalian maka kalian akan masuk surga Tuhan kalian. (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Umamah. SHAHIH)

Fathul Kabiir 230 Keutamaan silaturrahmi

  

٢٣٠ــ اِتَّقُوْٱ ٱللّهَ وَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّهُ أَبْقٰى لَكُمْ فِى الدُّنْيَا وَخَيْرٌ لَكُمْ فِى الْآخِرَةِ  (عبد بن حميد وَابْن جرير فِي تفسيرهما) عَن قَتَادَة مُرْسلا (ض)ـ

          230- Bertakwalah kepada Allah dan sambunglah sanak famili kalian karena hal tersebut lebih melanggengkan kalian di dunia dan lebih baik di akherat. (HR. Abd bin Hamiid dan Ibnu Jariir dalam kedua tafsirnya dari Qatadah secara mursal. DHAIFF)

Fathul Kabiir 229 Menyambung sanak famili

  

٢٢٩ــ اِتَّقُوْٱ ٱللّهَ وَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ (ابن عساكر) عن ابن مسعود (ض)ـ

          229- Bertakwalah kepada Allah dan sambunglah sanak famili kalian (HR. Ibnu Asaakir dari Ibnu Mas`ud. DHAIF)

Fathul Kabiir 228 Bertakwalah dan adillah kepada anak - anak kalian

  

٢٢٨ــ اِتَّقُوْٱ ٱللّهَ وَٱعْدِلُوا فِى أَوْلَادِكُمْ (ق) عن النعمان من بشير (صح)ـ

228- Takutlah kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anak kalian. (HR. Bukhari dan Muslim dari Nu`man bin Basyir, SHAHIH)

Jaami`ush Shaghiir 122 Adil kepada anak

 ADIL KEPADA ANAK

١٢٢ــ اتَّقُوا الله واعدِلُوا بَيْنَ أوْلادكُمْ كَمَا تُحِبُّونَ أنْ يَبَرُّوكُمْ (طب) عَن النعْمان بن بَشيرٍ (ض)ـ

          122- Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah kalian kepada anak – anak kalian sebagaimana kalian cinta apabila mereka berbakti kepada kalian. (HR. Thabrani dari Nu`man bin Basyir. DHAIF)

          Sebagai salah satu wujud ketakwaan adalah berbuat adil kepada anak – anak. Orang tua harus berbuat adil kepada anak – anaknya sebagaimana mereka cinta apabila anak – anak mereka berbakti kepada mereka.

          Orang tua punya hak dan kewajiban kepada anak – anaknya dan anak punya hak dan kewajiban kepada orang tuanya. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran surat Al-`Ankabut ayat 8

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ ۚ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (العنكبوت:٨)ـ

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Ankabut ayat 8)

Dan Al-Qur`an Surat At-Tahrim ayat : 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم:٦)ـ

          Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim ayat 6)
=

=

 

Jam`ul Jawaami1 414 Hadits Adil Kepada Anak

 ADIL KEPADA ANAK

٤١٤ــ اتَّقُوا الله واعدِلُوا بَيْنَ أوْلادكُمْ كَمَا تُحِبُّونَ أنْ يَبَرُّوكُمْ (طب) عَن النعْمان بن بَشيرٍ (ض)ـ

          414- Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah kalian kepada anak – anak kalian sebagaimana kalian cinta apabila mereka berbakti kepada kalian. (HR. Thabrani dari Nu`man bin Basyir. DHAIF)

          Sebagai salah satu wujud ketakwaan adalah berbuat adil kepada anak – anak. Orang tua harus berbuat adil kepada anak – anaknya sebagaimana mereka cinta apabila anak – anak mereka berbakti kepada mereka.

          Orang tua punya hak dan kewajiban kepada anak – anaknya dan anak punya hak dan kewajiban kepada orang tuanya. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran surat Al-`Ankabut ayat 8

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ ۚ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (العنكبوت:٨)ـ

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Ankabut ayat 8)

Dan Al-Qur`an Surat At-Tahrim ayat : 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم:٦)ـ

          Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim ayat 6)
=

=

 

Fathul Kabiir 227 ADIL KEPADA ANAK

 ADIL KEPADA ANAK

 

٢٢٧ــ اتَّقُوا الله واعدِلُوا بَيْنَ أوْلادكُمْ كَمَا تُحِبُّونَ أنْ يَبَرُّوكُمْ (طب) عَن النعْمان بن بَشيرٍ (ض)ـ

          227- Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah kalian kepada anak – anak kalian sebagaimana kalian cinta apabila mereka berbakti kepada kalian. (HR. Thabrani dari Nu`man bin Basyir. DHAIF)

          Sebagai salah satu wujud ketakwaan adalah berbuat adil kepada anak – anak. Orang tua harus berbuat adil kepada anak – anaknya sebagaimana mereka cinta apabila anak – anak mereka berbakti kepada mereka.

          Orang tua punya hak dan kewajiban kepada anak – anaknya dan anak punya hak dan kewajiban kepada orang tuanya. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran surat Al-`Ankabut ayat 8

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ ۚ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (العنكبوت:٨)ـ

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Ankabut ayat 8)

Dan Al-Qur`an Surat At-Tahrim ayat : 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم:٦)ـ

          Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim ayat 6)
=

=

 

Jam`ul Jawaami` 410 Orang beriman akan saling memaafkan

 

 

٤١٠ـ ــاتَّقُوا الله وأصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ فإِنَّ الله تَعَالَى يُصْلِحُ بَيْنَ المُؤمِنِينَ يَومَ القيامَةِ (ع ك) عَن أنس (صح)ـ

          410- Bertakwalah kalian kepada Allah swt dan perbaikilah hubungan diantara kalian karena sesungguhnya Allah swt akan mendamaikan diantara orang – orang beriman kelak di hari kiamat. (HR. Abu Ya`la dan Hakim dari Anas. SHAHIH)[1]      

Sesungguhnya Allah swt mencintai perdamaian, oleh karena itu berdamailah kalian. Pada hari kiamat, Allah swt akan mendamaikan antara orang - orang beriman yang berselisih dengan cari memberi balasan yang lebih baik.

          Diriwayatkan secara marfu sebuah hadits dari Ibnu Murdawiyah dari Anas:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادَى مُنَادٍ: يَاأَهلَ التَّوْحِيد، إِنَّ اللهَ قَدْ عَفَا عَنْكُمْ، فَلْيَعفُ بَعْضُكُمْ عَنْ بَعْضٍ، وَ عَلَى اللهِ الثَّوَابُ

Apabila hari kiamat terjadi maka seorang pemanggil memanggil-manggil (membuat pengumuman): Wahai ahli tauhid, sesungguhnya Allah benar – benar telah mengampuni kalian, oleh karena itu maka kalian harus saling memaafkan, sebagian kalian memaafkan sebagian lainnya, dan Allah akan memberi balasannya.[2]

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Suarat Al-Anfal ayat 1 menuliskan sebuah hadits  berikut:

بَيْنا رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ جالسٌ، إذ رأَيناهُ ضحِكَ حتَّى بدَتْ ثَناياهُ، فقال له عُمَرُ رضِيَ اللهُ عنه: ما أضْحَكَك يا رسولَ اللهِ بأبي أنت وأُمِّي؟ فقال: رجُلانِ جَثَيَا مِن أُمَّتي بين يدَيْ ربِّ العزَّةِ تبارَكَ وتعالى، فقال أحدُهما: يا ربِّ، خُذْ لي مَظْلَمتي مِن أخي، قال اللهُ عَزَّ وجَلَّ: أعْطِ أخاك مَظْلَمتَه، قال: يا ربِّ، لم يَبْقَ لي مِن حَسناتِه شَيءٌ، قال اللهُ تبارَكَ وتعالى للطَّالبِ: كيف تصنَعُ بأخيك ولم يَبْقَ مِن حَسناتِه شَيءٌ؟ قال: يا ربِّ، فلْيحمِلْ عنِّي مِن أوْزارِي. قال: وفاضَتْ عَيْنا رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بالبُكاءِ، ثمَّ قال: إنَّ ذلك لَيومٌ عظيمٌ؛ يومٌ يَحتاجُ النَّاسُ فيه إلى أنْ يُحْمَلَ عنهم أوزارُهم. فقال اللهُ تعالى للطَّالبِ: ارفَعْ بصَرَك، فانظُرْ في الجِنانِ، فرفَعَ رأْسَه، فقال: يا رَبِّ، أرى مدائنَ مِن فِضَّةٍ وقُصورًا مِن ذَهبٍ، مُكلَّلةً باللُّؤلؤِ، فيقولُ: لأيِّ نَبِيٍّ هذا؟! لأيِّ صِدِّيقٍ هذا؟! لأيِّ شَهيدٍ هذا؟! قال: هذا لمَن أعْطى الثَّمنَ، قال: يا ربِّ، ومَن يَملِكُ ذلك؟ قال: أنت تَملِكُه، قال: بماذا يا ربِّ؟ قال: تَعْفو عن أخيكَ، قال: يا ربِّ إنِّي قد عَفَوتُ عنه، قال اللهُ تعالى: خُذْ بيَدِ أخيكَ، فأدخِلْه الجنَّةَ. ثمَّ قال رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عند ذلك: فاتَّقُوا اللهَ وأصْلِحوا ذاتَ بينِكم؛ فإنَّ اللهَ يُصلِحُ بين المُؤمنينَ يومَ القيامةِ. (الراوي : أنس بن مالك | المحدث : البوصيري | المصدر : إتحاف الخيرة المهرة الصفحة أو الرقم : 8/203 | خلاصة حكم المحدث : سنده ضعيف)ـ

            Suatu saat Rasulullah saw sedang duduk, tiba – tiba kami melihat beliau tertawa hingga terlihat dua gigi beliau. Kemudian Umar rdh bertanya: “Apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah, demi ayah dan ibumu?” Beliau menjawab: “Dua orang laki – laki dari umatku sedang berlutut dihadapan Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemberi Berkah dan Maha Tinggi, kemudian salah seorang dari keduanya berkata: “Wahai Tuhanku, ambillah kebaikan saudaraku untukku sebagai pengganti kezhalimannya kepadaku” Maka Allah swt berfirman: “Berikanlah (kebaikanmu) kepada saudaramu (sebagai pengganti kezhalimanmu kepadanya)!”  Maka laki – laki tersebut berkata: “Wahai Tuhanku, tidak ada lagi kebaikan yang masih tersisa”. Dan Allah berfirman kepada laki – laki yang menuntut (keadailan): “Apa yang akan kamu perbuat kepada saudaramu yang sudah tidak memiliki sisa kebaikan?” Maka dia menjawab:” Wahai Tuhanku, ambillah dosa-dosaku yang aku tanggung dan berikanlah kepada saudaraku tersebut (agar dia yang menanggungnya)”.  Dikatakan: Mengalirlah air mata dari kedua mata Rasulullah saw karena menangis, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya hari itu adalah hari yang besar, hari dimana manusia harus menaggung dosa – dosa mereka.”

Kemudian Allah swt berfirman kepada orang yang menuntut: “Angkatlah pandanganmu, lihatlah apa yang ada di dalam surga!?” Kemudian dia menengadahkan kepalanya ke atas dan berkata:”Wahai Tuhaku, aku melihat tempat – tempat dari perak dan istana – istana dari emas yang berhiaskan mutiara”, kemudian ia melanjutkan bertanya: “Untuk Nabi siapakah semua ini?  Untuk shiddiqin siapakah ini? Untuk orang syahid siapakah ini?” Allah berfirman:”Untuk orang - orang yang bisa membelinya”  Dia bertanya lagi:”Wahai Tuhanku, siapakah yang bisa memilikinya?” Allah berfirman:”Kamu bisa memilikinya”  Dia bertanya lagi:”Dengan apa aku bisa memilikinya, Wahai Tuhanku?” Allah berfirman:”Dengan cara memaafkan saudaramu”  Dia berkata:”Wahai Tuhaku, aku benar – benar telah memaafkannya”  Allah swt berfirman:”Peganglah tangan saudaramu, masukanlah ia ke dalam surga (bersamamu)”

Setelah itu kemudian Rasululah saw bersabda: (فَاتَّقُوا اللهَ وأصْلِحوا ذاتَ بينِكم فإنَّ اللهَ يُصلِحُ بين المُؤمنينَ يومَ القيامةِ) Bertakwalah kalian kepada Allah swt dan perbaikilah hubungan diantara kalian karena sesungguhnya Allah swt akan mendamaikan diantara orang – orang beriman kelak di hari kiamat.[3] (HR. Anas bin Malik)



[1] Jaami`us Shaghiir 123., Fathul Kabiir 226., Jam`ul Jawaami` 410., Kunuuzul Haqaaiq.

[2] Faidhul Qadiir penjelasan hadits nomor 123. Imam Munawi menjelaskan ada ulama yang menshahihkan hadits ini dan ada juga yang mendhaifkannya.

[3] Tafsir Ibnu Katsir penjelasan Surat Al-Anfal ayat 1.

Jaami`ush Shaghiir 123 Orang islam akan saling memaakan

 CARA ALLAH MENDAMAIKAN SESAMA ORANG BERIMAN

 

١٢٣ــاتَّقُوا الله وأصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ فإِنَّ الله تَعَالَى يُصْلِحُ بَيْنَ المُؤمِنِينَ يَومَ القيامَةِ (ع ك) عَن أنس (صح)ـ

          123- Bertakwalah kalian kepada Allah swt dan perbaikilah hubungan diantara kalian karena sesungguhnya Allah swt akan mendamaikan diantara orang – orang beriman kelak di hari kiamat. (HR. Abu Ya`la dan Hakim dari Anas. SHAHIH)[1]      

Sesungguhnya Allah swt mencintai perdamaian, oleh karena itu berdamailah kalian. Pada hari kiamat, Allah swt akan mendamaikan antara orang - orang beriman yang berselisih dengan cari memberi balasan yang lebih baik.

          Diriwayatkan secara marfu sebuah hadits dari Ibnu Murdawiyah dari Anas:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادَى مُنَادٍ: يَاأَهلَ التَّوْحِيد، إِنَّ اللهَ قَدْ عَفَا عَنْكُمْ، فَلْيَعفُ بَعْضُكُمْ عَنْ بَعْضٍ، وَ عَلَى اللهِ الثَّوَابُ

Apabila hari kiamat terjadi maka seorang pemanggil memanggil-manggil (membuat pengumuman): Wahai ahli tauhid, sesungguhnya Allah benar – benar telah mengampuni kalian, oleh karena itu maka kalian harus saling memaafkan, sebagian kalian memaafkan sebagian lainnya, dan Allah akan memberi balasannya.[2]

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Suarat Al-Anfal ayat 1 menuliskan sebuah hadits  berikut:

بَيْنا رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ جالسٌ، إذ رأَيناهُ ضحِكَ حتَّى بدَتْ ثَناياهُ، فقال له عُمَرُ رضِيَ اللهُ عنه: ما أضْحَكَك يا رسولَ اللهِ بأبي أنت وأُمِّي؟ فقال: رجُلانِ جَثَيَا مِن أُمَّتي بين يدَيْ ربِّ العزَّةِ تبارَكَ وتعالى، فقال أحدُهما: يا ربِّ، خُذْ لي مَظْلَمتي مِن أخي، قال اللهُ عَزَّ وجَلَّ: أعْطِ أخاك مَظْلَمتَه، قال: يا ربِّ، لم يَبْقَ لي مِن حَسناتِه شَيءٌ، قال اللهُ تبارَكَ وتعالى للطَّالبِ: كيف تصنَعُ بأخيك ولم يَبْقَ مِن حَسناتِه شَيءٌ؟ قال: يا ربِّ، فلْيحمِلْ عنِّي مِن أوْزارِي. قال: وفاضَتْ عَيْنا رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بالبُكاءِ، ثمَّ قال: إنَّ ذلك لَيومٌ عظيمٌ؛ يومٌ يَحتاجُ النَّاسُ فيه إلى أنْ يُحْمَلَ عنهم أوزارُهم. فقال اللهُ تعالى للطَّالبِ: ارفَعْ بصَرَك، فانظُرْ في الجِنانِ، فرفَعَ رأْسَه، فقال: يا رَبِّ، أرى مدائنَ مِن فِضَّةٍ وقُصورًا مِن ذَهبٍ، مُكلَّلةً باللُّؤلؤِ، فيقولُ: لأيِّ نَبِيٍّ هذا؟! لأيِّ صِدِّيقٍ هذا؟! لأيِّ شَهيدٍ هذا؟! قال: هذا لمَن أعْطى الثَّمنَ، قال: يا ربِّ، ومَن يَملِكُ ذلك؟ قال: أنت تَملِكُه، قال: بماذا يا ربِّ؟ قال: تَعْفو عن أخيكَ، قال: يا ربِّ إنِّي قد عَفَوتُ عنه، قال اللهُ تعالى: خُذْ بيَدِ أخيكَ، فأدخِلْه الجنَّةَ. ثمَّ قال رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عند ذلك: فاتَّقُوا اللهَ وأصْلِحوا ذاتَ بينِكم؛ فإنَّ اللهَ يُصلِحُ بين المُؤمنينَ يومَ القيامةِ. (الراوي : أنس بن مالك | المحدث : البوصيري | المصدر : إتحاف الخيرة المهرة الصفحة أو الرقم : 8/203 | خلاصة حكم المحدث : سنده ضعيف)ـ

            Suatu saat Rasulullah saw sedang duduk, tiba – tiba kami melihat beliau tertawa hingga terlihat dua gigi beliau. Kemudian Umar rdh bertanya: “Apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah, demi ayah dan ibumu?” Beliau menjawab: “Dua orang laki – laki dari umatku sedang berlutut dihadapan Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemberi Berkah dan Maha Tinggi, kemudian salah seorang dari keduanya berkata: “Wahai Tuhanku, ambillah kebaikan saudaraku untukku sebagai pengganti kezhalimannya kepadaku” Maka Allah swt berfirman: “Berikanlah (kebaikanmu) kepada saudaramu (sebagai pengganti kezhalimanmu kepadanya)!”  Maka laki – laki tersebut berkata: “Wahai Tuhanku, tidak ada lagi kebaikan yang masih tersisa”. Dan Allah berfirman kepada laki – laki yang menuntut (keadailan): “Apa yang akan kamu perbuat kepada saudaramu yang sudah tidak memiliki sisa kebaikan?” Maka dia menjawab:” Wahai Tuhanku, ambillah dosa-dosaku yang aku tanggung dan berikanlah kepada saudaraku tersebut (agar dia yang menanggungnya)”.  Dikatakan: Mengalirlah air mata dari kedua mata Rasulullah saw karena menangis, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya hari itu adalah hari yang besar, hari dimana manusia harus menaggung dosa – dosa mereka.”

Kemudian Allah swt berfirman kepada orang yang menuntut: “Angkatlah pandanganmu, lihatlah apa yang ada di dalam surga!?” Kemudian dia menengadahkan kepalanya ke atas dan berkata:”Wahai Tuhaku, aku melihat tempat – tempat dari perak dan istana – istana dari emas yang berhiaskan mutiara”, kemudian ia melanjutkan bertanya: “Untuk Nabi siapakah semua ini?  Untuk shiddiqin siapakah ini? Untuk orang syahid siapakah ini?” Allah berfirman:”Untuk orang - orang yang bisa membelinya”  Dia bertanya lagi:”Wahai Tuhanku, siapakah yang bisa memilikinya?” Allah berfirman:”Kamu bisa memilikinya”  Dia bertanya lagi:”Dengan apa aku bisa memilikinya, Wahai Tuhanku?” Allah berfirman:”Dengan cara memaafkan saudaramu”  Dia berkata:”Wahai Tuhaku, aku benar – benar telah memaafkannya”  Allah swt berfirman:”Peganglah tangan saudaramu, masukanlah ia ke dalam surga (bersamamu)”

Setelah itu kemudian Rasululah saw bersabda: (فَاتَّقُوا اللهَ وأصْلِحوا ذاتَ بينِكم فإنَّ اللهَ يُصلِحُ بين المُؤمنينَ يومَ القيامةِ) Bertakwalah kalian kepada Allah swt dan perbaikilah hubungan diantara kalian karena sesungguhnya Allah swt akan mendamaikan diantara orang – orang beriman kelak di hari kiamat.[3] (HR. Anas bin Malik)



[1] Jaami`us Shaghiir 123., Fathul Kabiir 226., Jam`ul Jawaami` 410., Kunuuzul Haqaaiq.

[2] Faidhul Qadiir penjelasan hadits nomor 123. Imam Munawi menjelaskan ada ulama yang menshahihkan hadits ini dan ada juga yang mendhaifkannya.

[3] Tafsir Ibnu Katsir penjelasan Surat Al-Anfal ayat 1.